27 Oktober 2011

Batas wilayah Seko-Rongkong

PERNYATAAN SIKAP
MENYANGKUT PERBATASAN WILAYAH KECAMATAN SEKO DAN KECAMATAN LIMBONG,
KABUPATEN LUWU UTARA, SULAWESI SELATAN

Pada beberapa waktu terakhir telah timbul perbedaan pendapat mengenai batas wilayah Kecamatan Seko dan Kecamatan Limbong. Hal ini disebabkan adanya pemahaman yang keliru dan pelanggaran batas tradisional antara wilayah Seko dan Rongkong oleh fihak tokoh dan masyarakat Rongkong. Wakil-wakil Masyarakat Seko yang tercantum di bawah ini, baik dari unsur pejabat dan tokoh masyarakat di Seko, maupun tokoh-tokoh masyarakat, pemuda dan mahasiswa di rantau menyatakan sikap kepada pemerintah dan semua fihak terkait -- menyangkut perbatasan wilayah Kecamatan Seko dan Kecamatan Limbong -- sebagai berikut:

1. Batas tradisional tanah ulayat yang diwariskan para leluhur Seko dan Rongkong adalah bukit Tabembeng. Dalam kearifan para leluhur, disepakati bahwa semua wilayah di mana anak sungainya mengalir ke arah Seko adalah wilayah Seko dan sebaliknya wilayah yang air sungainya mengalir ke daerah Rongkong adalah wilayah Rongkong. Pada masa lalu pelanggaran atas batas ini tidak terjadi, selain karena kearifan dan kejujuran mereka, juga karena para pendahulu kita tidak bersikap tamak, tidak mengklaim milik fihak lain sebagai miliknya.
2. Pada zaman pemerintahan kolonial Belanda ada kewajiban masyarakat membayar belasting (pajak). Untuk kebutuhan itu masyarakat mencari damar di hutan ulayat masing-masing. Karena masyarakat Rongkong tidak mempunyai hutan dengan pohon-pohon damar maka atas permintaan mereka maka para Tomokaka dan Tobara’ Seko memberi izin kepada masyarakat dari Rongkong untuk mencari damar sampai ke daerah Mabusa. Izin itu hanyalah untuk mencari damar, bukan memberikan tanah ulayat Seko kepada masyarakat Rongkong. Sering terjadi bahwa mereka mencari damar sampai melampaui batas wilayah hutan yang diizinkan bagi mereka.
3. Sejak dahulu Seko dan Rongkong adalah wilayah yang terpisah dalam Kadatuan Luwu, dan pada masa pemerintahan kolonial Belanda masing-masing dibentuk tersendiri sebagai Distrik Seko dan Distrik Rongkong Atas. Keadaan ini berlaku sampai masa pendudukan gerombolan DI/TII bderakhir pada tahun 1960-an. Penduduk kedua distrik menjadi sangat berkurang akibat pengungsian karena gerombolan itu, sehingga Seko dan Rongkong Atas digabung menjadi satu kecamatan, yang disebut Kecamatan Limbong.
4. Pada tahun 1999-2004 berlangsung persiapan pembentukan Kecamatan Seko. Kecamatan Seko berhasil ditetapkan pada bulan April tahun 2004. Penetapan ini sebenarnya mengembalikan status Seko sebagaimana sebelumnya, yaitu satu distrik tersendiri. Dalam penetapan itu tidak ditentukan batas wilayah; rupanya karena orang sama memahami dan menerima batas tradisional, yakni bukit Tabembeng.
5. Tetapi kemudian sejumlah tokoh dan masyarakat dari Kecamatan Limbong berusaha mengklaim dan menduduki wilayah Kecamatan Seko, dalam bentuk membuka kebun dan mendirikan pondok di sekitar hutan Mabusa, seolah- olah wilayah itu termasuk Kecamatan Limbong. Dalam percakapan sering mereka ajukan argumentasi bahwa daerah itu tempat leluhur mereka mengambil damar, yang mereka artikan hutan dan tanah itu milik mereka. Mereka tidak tahu atau berusaha melupakan yang sebenanya, bahwa leluhur mereka hanya diberi izin mengambil damar di wilayah Seko itu.
6. Dalam dinamika pembangunan daerah Seko ke depan, masyarakat Seko memerlukan wilayah pengembangan yang lebih luas, misalnya untuk pemekaran desa-desa. Pada kenyataannya penduduk Seko bertambah dengan cukup pesat pada beberapa tahun terakhir. Karena itu masyarakat Kecamatan Seko tidak bersedia memberikan tanah ulayatnya untuk menjadi wilayah Kecamatan Rongkong.
7. Dalam suatu perundingan baru-baru ini, yang difasilitasi pemerintah Kabupaten Luwu Utara, para pemuka masyarakat Kecamatan Seko berupaya memahami kebutuhan masyarakat Kecamatan Limbong sehingga bersedia menyerahkan sebagian wilayahnya sampai ke Mabusa, tetapi wakil-wakil fihak Kecamatan Limbong menolak dan menghendaki lebih luas lagi. Karena sikap seperti itu, dan karena kebutuhan bagi pengembangan Kecamatan Seko, maka sebagai wakil-wakil masyarakat Seko, kami meninjau ulang tawaran kami, dan tetap mempertahankan batas tradisional daerah Seko dengan Rongkong, yaitu bukit Tabembeng.

28 Oktober 2011

Tim Perbatasan Seko:
1. Drs. Tahir Bethony (Kepala SMA Neg. Seko)
2. Barnabas Tandipaewa, M.Hum (Tokoh Masyarakat)
3. Nasir Saleng, S.Ag (tokoh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Seko)
4. Marthindas Pasarrin (Kepala Desa Malimongan)
5. Yusuf Amos (Kepala Desa Embona Tana)
6. Thomas Edison (Kepala Desa Beroppa’)

Pejabat Pemerintah Seko
1. Agrippa Asri, S. Sos (Kepala Kecamatan Seko)
2. Obed Bongga (Kepala Desa Tirobali)
3. Thomas Edison (Kepala Desa Beroppa’)
4. Marthindas Pasarrin (Kepala Dasa Malimongan)
5. Otto Sadar (Kepala Desa Tanamakaleang)
6. Ny. Martha Sattu (Kepala Desa Hoyane)
7. Yusuf Amos (Kepala Desa Embonatana)
8. Sabrin (Kepala Desa Padangraya)
9. Safaruddin (Kepala Desa Lodang)
10. Harun Talotong (Kepala Desa Hono)
11. Ali Hijrat (Kepala Desa Taloto)
12. Ny. Ruth Taeli (Kepala Desa Padangbalua)
13. Hendrik (Kepala Desa Marante)

Pemuka Dewan Adat Seko:
1. Tubara Lodang
2. Tubara Turong
3. Tubara Hono
4. Tokay Singkalong
5. Tobara Pohoneang
6. Tobara Amballong
7. Tobara Hoyane
8. Tomokaka Kariango
9. Tomokaka Beroppa

Tokoh-tokoh Masyarakat, generasi muda dan mahasiswa asal Seko di rantau:(sdh terdaftar 65 nama sbb, silahkan anda juga)

Tokoh-tokoh Masyarakat, generasi muda dan mahasiswa asal Seko di rantau:
1. Agustinus Tibian, SH (Makale)
2. AIPDA Herlin Pagadi (Makassar)
3. A.K. Samben (Seriti)
4. AKBP Yunus Tammu (Makassar)
5. AKP Daniel Panandu, SH (Makassar)
6. Arthur Tandipaewa (Makassar)
7. Awal Bangai (Palopo)
8. Diar (Makassar)
9. dr. Magdalena B. Ngelow (Palu)
10. Dr. Martha K. Pandonge-Ngelow, M.Hum (Poso)
11. Drs. Abd Rachman Sulli, M.Ag (Maros)
12. Drs. Esaf Teang (Palu)
13. Drs. Herman Ampera Parantean (Makassar)
14. Drs. Herman Pagadi (Wasuponda, Luwu Timur)
15. Drs. John Agan (Palu)
16. Drs. Linggi Pasarrin (Makassar)
17. Drs. Linde’ Pasembang (Palopo)
18. Drs. Marsunyi Bangai (Makassar)
19. Drs. Paulus Tibian (Makassar)
20. Drs. Rande Samben (Samarinda)
21. Drs. Risal, M.Pd (Makassar)
22. Drs. Samben Paotonan (Makassar)
23. Frans Kinda (Biromaru)
24. IPDA Darwis (Makassar)
25. Ir. Darius Y. Ngelow (Buol)
26. Ir. Salmon Timotius Tombang (Makassar)
27. Ir. Samuel Kalambo (Makassar)
28. Ir. Yakub Samben (Makassar)
29. Ir. Yonathan Lada (Kendari)
30. Irene Palisungan-Takudo (Rantepao)
31. J.L. Bethony (Seriti)
32. J.R. Tibian (Rantepao)
33. Kapt. (Pur TNI-AL) Silas P. Kalambo (Makassar)
34. KOMPOL Aleksander Yusuf (Makassar)
35. KOMPOL Daniel Lindang (Makassar)
36. Let.Kol (Pur POLRI) Yohanis Lembeh Takudo (Jakarta)
37. Luther Sindang (Omu, Biromaru)
38. M. Karuttang (Makassar)
39. Mahir Takaka, S.Ag (Jakarta)
40. Marten Tatengnge (Biromaru)
41. Pdt. D.P. Kalambo (Makassar)
42. Pdt. Debora Tondong, S.Th (Palu)
43. Pdt. Dr. Zakaria J. Ngelow (Makassar)
44. Pdt. Eliezer Tarongki, S.Th (Palu)
45. Pdt. Elisa Sisang, S.Th (Batusitanduk)
46. Pdt. Joni Tapingku, M.Th (Semarang)
47. Pdt. Kalvin Kalambo, M.Th (Mamuju)
48. Pdt. M. Tandi Appang (Seriti)
49. Pdt. Monika Kawengian-Kalambo (Manado)
50. Pdt. Robert Maarthen, S.Th (Semarang)
51. Pdt. Simon Bethony (Masamba)
52. Pdt. Yahya Boong, S.Th (Palopo)
53. Pdt. Yakub Tangke (Palopo)
54. Petrus Katjang (Makassar)
55. P. Palang (Masamba)
56. P. Palimbong (Palopo)
57. P. Pottanubu (Palopo)
58. P. Sundung (Masamba)
59. Ribka Matakupan-Pagadi (Palu)
60. Sem Takuda (Palu)
61. Semuel Samben, S.H (Palu)
62. Senong (Biromaru)
63. Silas Andekan (Rantepao)
64. Y.T. Lindang (Makassar)
65. Yeremia Talose (Palu)

18 September 2010

Memaknai Pengungsian Masyarakat Seko

[Surat 3 tahun lalu]


UCAPAN SELAMAT Pengurus Yayasan Ina Seko
menyampaikan
selamat berbahagia dan turut bergembira
atas Pengucapan Syukur ke-2 Masyarakat Seko
memperingati kembalinya dari pengungsian,
tanggal 27 - 31 Oktober 2007.
Kiranya Tuhan memberkati Masyarakat Seko seluruhnya,
baik di Seko maupun di rantau.

Makassar, 13 Oktober 2007
Atas nama Pengurus Yayasan Ina Seko,

Zakaria J. Ngelow/Ketua,

Marsunyi Bangai/Sekretaris,


Bersama Ucapan Selamat ini kami lampirkan sambutan pribadi Ketua Yayasan Ina Seko untuk seluruh masyarakat Seko. Kami mohon untuk dibacakan pada saat perayaan oleh Koordinator Perwakilan Yayasan Ina Seko di Seko, Bapak Drs. Tahir Bethony. Terima kasih.



MAKNA SEJARAH PENGUNGSIAN MASYARAKAT SEKO

oleh Zakaria Ngelow

Sambutan pada Perayaan Syukur ke-2 Kembalinya Masyarakat Seko dari Pengungsian, akhir Oktober 2007 di Rantedanga’, Desa Tirobali, Kecamatan Seko. (Dibacakan oleh Drs. Tahir Bethony, Koordinator Perwakilan Seko Yayasan Ina Seko)

Ibu-ibu, Bapak-bapak, Saudara-saudara masyarakat Seko yang saya kasihi dan rindukan. Ibu-ibu, Bapak-bapak, Saudara-saudara para undangan yang saya hormati.

Syukur kepada Tuhan atas perkenan-Nya bagi masyarakat Seko untuk kedua kalinya merayakan Kembalinya Masyarakat Seko dari Pengungsian. Pertama-tama saya mohon maaf karena hanya dapat menjumpai masyarakat Seko dalam perayaan syukur ini melalui sambutan ini. Saya tetap rindu dan mudah-mudahan Tuhan beri waktu kepada saya untuk bertemu langsung dengan masyarakat Seko di Seko pada waktu yang diperkenankan-Nya. Tuhan memberi saya kesempatan berkali-kali berkunjung ke banyak tempat di dalam dan di luar negeri, tetapi belum disempatkan lagi ke Seko sejak terakhir kali tahun 1975.

Saya menghargai prakarsa perayaan syukur kedua ini. Dalam catatan saya perayaan syukur dilangsungkan tahun 1966, dihadiri antara lain Pdt. A,J, Anggui, M.Th darti Badan Pekerja sinode Gereja Toraja. Saya usulkan supaya perayaan syukur ini dijadikan tradisi perayaan masyarakat Seko sekali dalam 5 (lima) tahun. Bisa pula dipikirkan supaya perayaan syukur itu menjadi pertemuan raya berkala seluruh masyarakat Seko, baik yang di Seko maupun yang di rantau. Selain kebaktian syukur, perayaan ini perlu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna dalam menggalang persatuan, kemajuan dan tanggungjawab masyarakat Seko, termasuk warga Seko yang tinggal di rantau. Perayaan seperti ini juga merupakan peluang berkreasi mengembangkan berbagai bentuk kesenian tradisional Seko (menari, menyanyi, dsb). Pada waktunya perayaan syukur bisa menarik perhatian dunia pariwisata di Seko.

Sejarah Pengungsian

Sejarah pengungsian masyarakat Seko berlangsung dari tahun 1953 - 1964. Dalam masa lebih 10 tahun itu masyarakat Seko mengalami penindasan gerombolan DI/TII, pelarian ke luar Seko, usaha-usaha menyelamatkan warga masyarakat yang masih dikuasai gerombolan, mengatur kehidupan masyarakat Seko di pengungsian, mengembalikan masyarakat Seko ke Seko, dan usaha-usaha mengamankan Seko dari pendudukan gerombolan DI/TII.

Kembalinya masyarakat Seko dari pengungsian dimulai pada tahun 1961 ketika berlangsung genjatan senjata (cease fire) antara TNI dengan gerombolan DI/TII. Almarhum Bapak Timotoius Tombang, yang masa itu tinggal di Pemanikan (Makki) sebagai pelaksana tugas Kepala Distrik Seko di Pengungsian, bersama sejumlah pemimpin masyarakat Seko -– antara lain almarhum Bapak T. Tompe (Ambe’ Marina), almarhum Bapak M.P. Reseng (Ambe’ Rassan), almarhum Bapak Otniel Ontong Patanduk dll -– memprakarsai pemulangan masyarakat Seko dari Makki. Almarhum ayah saya ikut di dalam perencanaan itu, walau pun kemudian almarhum lebih tertarik pada tawaran almarhum Andi Bintang, seorang bangsawan Luwu’ di Palopo –- rekannya di penjara pada zaman revolusi –- untuk memindahkan para pengungsi dari Makki ke suatu tanah hibah kerajaan Luwu di daerah Bone-bone.
Sesudah berbagai persiapan, suatu pertemuan besar dilakukan di Barre’ menyangkut upaya pemulangan pengungsi ke Seko, termasuk menyatakan terima kasih dan pamit kepada pemuka dan masyarakat Makki (Karataun, Karama, dan Kalumpang), dan juga membahas dan memutuskan berbagai masalah yang dapat timbul di Seko kelak (antara lain mengenai kerbau yang masih tersisa di Seko, batas-batas tanah yang bergeser atau kabur, dsb). Disepakati bahwa pemulangan pengungsi dimulai dengan merintis pembukaan kebun: para laki-laki mendahuli ke Seko membuka kebun di Rantedanga’, lalu keluarga akan menyusul setelah tersedia makanan. Masyarakat Seko di Makki waktu itu terpecah antara yang mendukung upaya memulangkan pengungsi dan yang menentangnya. Baru sejak tahun 1964 -– ketika Seko sudah aman -– kelompok yang menentang beramai-ramai kembali ke Seko. Terbunuhnya almarhum Bapak Harun Batu Sisang pada tahun 1963 adalah bagian dari upaya membuka kemungkinan memulangkan masyarakat Seko dari pengungsian di Sulawesi Tengah.

Perayaan syukur ini hendaknya disertai upaya-upaya serius dan terus menerus mengenal peristiwa pengungsian pada tahun 1950-an sampai 60-an sambil mengembangkan makna mendasar yang terkandung di dalam peristiwa pengungsian orang Seko itu. Dari tahun ke tahun para orang tua kita yang masih mengalami pengungsian satu per satu dipanggil Tuhan dari tengah-tengah kita. Kita semua dan anak-anak kita bisa kehilangan jejak sejarah masyarakat kita yang demikian penting ini jika tidak ada upaya-upaya serius mewariskan dan memaknai pengalaman pengungsian mereka. Kita perlu menulis pengalaman-pengalaman pribadi pengungsian masyarakat Seko dan merenungkan keajaiban tuntunan Tuhan kepada kita.

Saya mulai menulis tentang pengungsian orang Seko dalam suatu presentasi untuk loka karya internasional para teolog muda Kristen di Kyoto (Jepang) pada tahun 1985. Saya juga pernah menulis suatu karangan mengenai selayang pandang sejarah masyarakat Seko. Beberapa tokoh masyarakat Seko telah saya wawancarai pengalaman hidup masing-masing secara ringkas. Beberapa dari mereka sudah meninggal. Almarhum ayah saya, Yusuf Kontang Ngelow, sudah menulis pengalaman-pengalamannya turut memimpin masyarakat Seko sejak pendudukan DI/TII di Beroppa’ sampai masa pengungsian di Makki. Bapak Kapt TNI-AL (Purn) Silas P. Kalambo menulis naskah tentang Komando Operasi Pong Huloi, yakni upaya pengamanan daerah Seko Padang dari pendudukan gerombolan DI/TII pada tahun 1964-1965. Jauh sebelumnya almarhum Bapak P.K. Bethony menulis beberapa pokok mengenai Seko dalam suatu naskah panjang tulisan tangan. Naskah-naskah itu belum diterbitkan. Yayasan Ina Seko sedang mengumpulkan tulisan-tulisan mengenai Seko dan pengungsian orang Seko, yang masih sangat sedikit jumlahnya itu. Mudah-mudahan dengan perkenan Tuhan maka tahun depan bisa diterbitkan dalam satu buku kumpulan karangan.

Beberapa Pemaknaan

Saya mencoba mengemukakan beberapa makna penting dalam sejarah pengungsian Seko itu sebagai berikut:

Pertama, pengungsian adalah bencana yang menimpa seluruh masyarakat Seko.
Pengungsian akibat pendudukan dan penindasan gerombolan DI/TII meliputi seluruh masyarakat Seko: To Lemo, To Pevanean, To Padang. Sebab itu perayaan syukur peringatan kembalinya masyarakat Seko dari pengungsian harus merupakan peringatan bersama seluruh masyarakat Seko, termasuk kelompok-kelompok masyarakat Seko yang tetap tinggal di daerah pengungsian, misalnya di Makki, Toraja (To’tallang), Seriti, Omu’, Palolo dll. Karena itu saya usulkan supaya perayaan syukur pada kesempatan mendatang dilakukan bergilir oleh ketiga rumpun masyarakat Seko. Pada perayaan syukur kali ini To Lemo menjadi penyelenggara. Perayaan berikutnya To Pevanean, lalu berikutnya lagi To Padang, dst. Untuk itu perlu dilakukan percakapan-percakapan dalam persaudaraan, dan dengan rendah hati, keterbukaan, saling menghargai dan tanpa prasangka di antara para pemimpin masyarakat Seko. Semangat kesatuan dan persatuan seluruh masyarakat Seko harus dinyatakan dan dikembangkan dalam perayaan syukur itu. Harap diingat pula bahwa saudara-saudara kita yang beragama Islam adalah juga warga masyarakat Seko yang turut menderita sebagai korban pendudukan dan penindasan gerombolan DI/TII. Mereka juga harus dilibatkan dalam perayaan syukur ini, bukan sebagai tamu melainkan sesama warga masyarakat Seko yang turut menyatakan perayaan syukur bersama.

Kedua, pengungsian meninggalkan para pahlawan.
Sejarah pengungsian masyarakat Seko berakibat bukan saja banyak korban harta tetapi juga banyak korban jiwa. Saya berusaha menyusun data (yang belum lengkap) dari sekitar 100 orang Seko yang dibunuh oleh gerombolan DI/TII antara tahun 1953 - 1963. Kita harus mengingat dan menghargai pengorbanan jiwa mereka itu, baik yang ditangkap lalu dibunuh, maupun mereka yang gugur dalam perlawanan bersenjata melawan DI/TII, serta yang gugur dalam pelarian. Antara lain gugur 11 orang pasukan Seko dalam perlawanan terhadap DI/TII di Pevanean pada bulan Oktober 1954. Demikian juga gerombolan DI/TII membunuh dengan biadab Bapak Harun Batu Sisang (Kepala Distrik Seko di Pengungsian) dan Bapak Timotius Tombang serta Proponen (Calon Pendeta) Yakob Ngali’ bersama lebih 30 orang pemuka dan warga masyarakat Seko di Lodang pada tahun 1963. Sudah lama saya usulkan supaya masyarakat Seko mendirikan monumen atau tugu sebagai tanda peringatan bagi mereka, bahkan mengupayakan mengumpulkan sisa-sisa jasad mereka untuk dikuburkan kembali bersama-sama di satu atau beberapa lokasi yang terpilih. Sudah ada yang mengusulkan supaya monumen peringatan didirikan di tiga tempat: di Pevanean, di Beroppa’, dan di Lodang (Hanghulo). Mudah-mudahan kita semua dapat mewujudkan hal ini secepatnya dan sudah selesai sebelum perayaan syukur berikutnya. Tetapi lebih dari sekadar tugu atau monumen, mereka yang gugur itu harus dikenang sebagai pahlawan masyarakat Seko, yang memberi kita seluruh warga masyarakat Seko jati diri, kebanggaan, dan inspirasi untuk memajukan masyarakat Seko, dan bahwa kita juga rela berkorban jiwa daripada ditindas oleh siapa pun.

Ketiga, pengungsian karena iman Kristen.
Sejarah pengungsian masyarakat Seko terkait dengan penolakan orang Seko terhadap penindasan dan pemaksaan meninggalkan agama Kristen oleh gerombolan DI/TII. Sebab itu, sejarah pengungsian haruslah memotivasi kesetiaan beriman, keluhuran budi, dan persekutuan jemaat orang Kristen Seko bahwa kekristenan kita dipertahankan dengan darah dan nyawa para martir Kristen Seko. Kita juga perlu mengingat secara khusus pembunuhan terhadap almarhum Pdt. P. Sangka’-Palisungan, pendeta Gereja Toraja untuk wilayah Rongkong dan Seko pada tahun 1953. Orang Seko memang tidak sendiri mengalami penindasan DI/TII. Masyarakat-masyarakat Kristen di daerah Rongkong, Rampi, Kalumpang, Ranteballa, Pantilang, Maleku-Mangkutana, Tana Toraja, Mamasa, Soppeng (Bugis), Malino (Makassar), dan daerah-daerah lain juga mengalaminya. Juga banyak orang Kristen di daerah-daerah itu yang menderita dan terbunuh. Dalam kaitan itu baiklah kita mengembangkan persaudaraan dan kerjasama dengan umat Kristen di Sulawesi Selatan dan di Sulawesi Barat.

Keempat, pengungsian dan keprakarsaan orang Seko.
Dalam sejarah pengungsian sangat menonjol keprakarsaan orang Seko menghadapi kesulitan-kesulitan kehidupan masyarakatnya. Perlawanan kepada DI/TII untuk mengamankan Seko baik dalam perang Lereng Cinta di Pevanean (dan Kariango) pada tahun 1954 maupun Komando Operasi Pong Huloi di Seko Padang (1963-1964) diprakarsai putra-putra Seko sendiri. Demikian juga penyelamatan masyarakat Seko yang masih dikuasai gerombolan. Almarhum Bapak Yohan Kasuvian Kalambo (waktu itu Komandan Polisi di Palu) menyelamatkan sejumlah masyarakat Seko dari Eno pada tahun 1956 dan mengungsikan mereka ke Omu, Palu. Demikian juga beberapa tokoh lainnya. Khususnya pengungsian di Makki, saya perlu menyebut tiga keprakarsaan pemuka-pemuka masyarakat Seko mengatur kehidupan pengungsi Seko yang cukup mantap:

(1) Konsolidasi pasukan keamanan (OPR/OPD) untuk bersiap menghadapi berbagai ancaman keamanan. Almarhum ayah saya adalah salah seorang pimpinan pasukan Seko, yang pernah bersama pasukan Kalumpang (pimpinan almarhum Bapak Marten Andayo) membantu pengamanan di daerah Mamuju dan Mamasa pada tahun 1958.
(2) Kampung-kampung pengungsi Seko didirikan: Kapai, Rante Lo’po’, Timbu, Lantang Tedong, Tappo, Pemanikan, dan Pattung (untuk To Lemo), Ladang dan Ledo (untuk To Pevanean) masing-masing dengan perangkat pejabatnya. Dan bersama dengan itu juga jemaat-jemaat dibentuk dengan majelisnya, yang dapat berfungsi dengan baik sekalipun tanpa adanya pendeta jemaat (baru pada tahun 1961 Pdt. D.P. Kalambo ditempatkan Gereja Toraja sebagai pendeta jemaat-jemaat Seko di Makki). Dalam hubungan itu saya perlu menyebut khusus jasa almarhum Pdt. (waktu itu masih Guru Injil) P. Pattikayhatu dari Gereja Toraja Mamasa di Kalumpang yang setiap kali melayani jemaat-jemaat Kristen Seko di Makki.

Keprakarsaan lainnya, yang juga sangat penting adalah:
(3) Mendirikan beberapa Sekolah Rakyat (SR) dan sebuah SMP (dipimpin oleh Bapak Obet Pepa’ setelah lulus SGA di Rantepao) yang kemudian dihubungkan dan diasuh oleh YPKT (Yayasan Pendidikan Kristen Toraja). Saya mulai sekolah di SR di Timbu (al. bersama sdr Tandiagi Bambangan) dalam bangunan gereja sederhana, dan kemudian di Tappo dalam bangunan sekolah yang juga sederhana, yang didirikan oleh masyarakat Seko sendiri. Guru-gurunya dipungut dari kalangan sendiri apa adanya, bahkan ada yang belum lulus SR, tetapi mereka penuh tanggung jawab dan menghasilkan lulusan yang cukup bermutu. Mereka tidak digaji, kecuali memakai tenaga anak-anak sekolah untuk sehari dalam seminggu bekerja di kebun masing-masing guru. Para guru sekolah di pengungsian amat besar tanggungjawab, jasa dan pengorbanannya bagi masyarakat kita. Di antara guru-guru saya di Makki saya mengingat antara lain Bapak Karel Mantolo’, Bapak Obeth Lebba Pasarrin (Ne’ Uban), Bapak Luther Todja, dan Bapak Yohanis Noo Pasande. Ibu Reni Takudo juga pernah mengajar saya di SR Tappo, juga almarhumah Ibu Maria Rapa, serta Ibu Elis Tibian.

Saya masih perlu menyebut satu keprakarsaan para pemimpin masyarakat Seko, yakni membentuk satuan Komando Operasi Pong Huloi oleh putera-putera Seko yang berdinas di militer dan polisi. Mereka sepakat cuti ke Seko dengan membawa senjata api untuk bersama-sama pasukan rakyat mengusir satuan gerombolan DI/TII di Seko pada tahun 1963-1964. Baru sesudah itu satuan TNI beberapa kali dikirim dari Makassar untuk mengamankan Seko dan mengejar sisa-sisa gerombolan DI/TII yang bersembunyi di rimba raya Seko.
Keprakarsaan atau inisiatif dan pengorbanan menghadapi masalah-masalah kehidupan masyarakat menjadi ciri khas pemimpin dan masyarakat Seko dahulu, yang harus terus dihidupkan sekarang dan di masa depan. Dalam hubungan itu pula kepemimpinan masyarakat Seko masa kini dan masa depan jangan lagi didasarkan pada silsilah turunan dan dongeng-dongeng leluhur masa silam, melainkan pada prestasi, tanggungjawab dan keprakarsaan membela dan memajukan masyarakat Seko.

Kelima, pengungsian dan persaudaraan dengan banyak orang lain.
Sejarah pengungsian membawa kita masyarakat Seko ke tengah-tengah masyarakat-masyarakat di tempat lain. Kita berterima kasih kepada masyarakat dan pemerintah daerah Karama, Karataun, dan Kalumpang atas penerimaan dan bantuan kepada pengungsi Seko. Tak boleh kita lupakan bahwa pasukan OPR dari daerah ini sudah sejak awal membantu pasukan pemuda Seko dalam upaya-upaya mengamankan Seko dari gangguan dan pendudukan gerombolan DI/TII dan mengungsikan masyarakat. Demikian pula kita berterima kasih kepada masyarakat dan pemerintah di Tana Toraja, dan di Sulawesi Tengah (Kulawi dan Kaili). Maka sambil menegaskan identitas kita yang khas sebagai orang Seko, kita terbuka menjalin persaudaraan dengan masyarakat-masyarakat tetangga kita, dan kalau bisa kita patut berbalas jasa dengan mengabdikan diri sesuai panggilan masing-masing di tengah-tengah dan/atau bagi mereka juga. Pada masa pengungsian satuan-satuan pasukan Seko ikut terlibat dalam membela masyarakat setempat dari gangguan gerombolan pengacau keamanan di daerah Tana Toraja dan di daerah Mamuju dan Mamasa.

Keenam, bencana pengungsian membawa berkat tersembunyi.
Ada banyak orang yang berpendapat bahwa sekiranya tidak ada pengungsian karena penindasan gerombolan DI/TII maka tidak akan banyak orang Seko yang hidup di rantau dan turut dalam berbagai kemajuan masyarakat Indonesia moderen. Banyak pemuda Seko yang masuk sekolah dan akhirnya bekerja di rantau, antara lain sebagai guru sekolah dan pegawai negeri lainnya, serta pegawai swasta. Saya tidak bisa membayangkan apakah almarhum ayah saya bisa jadi pegawai negeri dan saya dan adik-adik saya bisa bersekolah dengan baik sekiranya orang tua saya tidak mengungsi sampai ke Makassar pada tahun 1963. Salah satu kenyataan dalam sejarah pengungsi Seko adalah pada tahun 1956 lebih 50 orang Seko direkrut masuk tentara di Palu dan di Rantepao oleh almarhum Mayjen TNI Frans Karangan. Para pensiunan tentara orang Seko, antara lain Bapak J. Tapepa’ Lindang, Bapak Y. Bangkalang, Bapak Saul Sadi’, Bapak Silas Sorong, Bapak M. Sarunde’ adalah putera-putera Seko yang direkrut jadi tentara waktu itu. Sudah banyak pula yang mendahului kita, sepeti almarhum Bapak M. Sarambu, almarhum Bapak Piter Kalesu, almarhum Bapak Piter Siing. Karena merantau akibat pengungsian, almarhum Letkol TNI Robo Mayaho memperoleh jalannya masuk Akademi Mliter Nasional di Magelang dan lulus menjadi perwira. Demikian pula Bapak Pdt. D.P. Kalambo dan Bapak Pdt. Yan Tandilolo bisa masuk sekolah pendeta di Makassar, serta Bapak Letkol Pol (Purn) Yohanis Lembeh masuk polisi.
Memang tanpa pengungsian pasti ada saja orang Seko yang akan merantau dan mendapat pendidikan lanjut, tetapi akan sangat terbatas jumlahnya. Kenyataan penting dewasa ini adalah bahwa dari ratusan sarjana orang Seko, kebanyakan mereka anak-anak warga Seko di rantau.
Pemahaman bahwa pengungsian membawa berkat tersembunyi penting menjadi keyakinan kita dan anak-anak kita, supaya dalam kesulitan, penderitaan dan berbagai masalah kita tetap mempunyai harapan dan iman bahwa benar Tuhan mengatur langkah hidup kita secara pribadi, keluarga maupun masyarakat Seko seluruhnya.

Visi

Sebelum saya akhiri sambutan yang sudah agak panjang ini, saya meminta kesungguhan kita semua untuk bersama-sama memajukan masyarakat Seko. Secara iman saya memahami bahwa Tuhan mengembalikan kita dari pengungsian ke Seko supaya kita membangun dan memajukan kehidupan masyarakat kita di Seko dan memelihara kelestarian Tanah Seko. Penting memperhatikan bahwa kekayaan alam Tana Seko sudah dan akan terus menarik banyak orang dari luar masuk Seko. Pemerintah sudah mulai membangun Seko, tetapi kemajuan di Seko bisa meminggirkan anak-anak Seko sendiri jika pendidikan tidak didukung dan dimajukan mengikuti tuntutan mutu sumber daya manusia moderen. Saya mendengar bahwa pendidikan di Seko masih sangat ketinggalan. Guru-guru, para pemuka agama, dan para pemuka masyarakat serta pejabat pemerintah sama bertanggungjawab terhadap pengembangan mutu pendidikan putera-puteri Seko. Selain pengetahuan ilmu dan teknologi pendidikan anak-anak kita juga harus diberi dasar moral kejujuran dan tanggungjawab.

Saya tekankan juga bahwa masyarakat Seko akan terpuruk jika para pemuka dan pemimpin masyarakat Seko tidak kompak bersatu saling mendukung, jika mereka tidak mempunyai visi (cita-cita) yang jelas dan yang gigih diperjuangkan bersama, dan jika mereka tidak secara kritis dan tegas menentang sepak terjang orang-orang dari luar yang mencari kepentingan diri atau kelompoknya di Seko.

Terima kasih, selamat melakukan perayaan, teriring salam doa kepada Ibu/Bapak/Saudara: tua-tua, pemuka dan masyarakat Seko semua, Tuhan kiranya tetap memberkati masyarakat Seko seluruhnya, di Seko dan di rantau.

Saya tutup sambutan ini dengan mengutip sebait syair lagu karangan almarhum Bapak P.K. Bethony:

Tanga’ku paissa’ku, pahelakku uppana Seko matida,
Kalihayoku, hatang puttiku, kupehea idio Tana Seko.


Rantepao, 7 October 2007


Zakaria J. Ngelow
Ketua Yayasan Ina Seko

21 Desember 2009

In Memoriam Pdt. J.Z. Dassinglolo

Mazmur 145: 14-21. Merayakan Kehidupan

Zakaria J. Ngelow

Ibu, Bapak, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Pemberitaan firman Tuhan dalam persekutuan ibadah malam ini saya sampaikan sebagai wakil masyarakat Seko, dan dengan menekankan sudut pandang Merayakan Kehidupan.

Pembacaan firman Tuhan, bagian ketiga, ayat-ayat 14-21 dari Mazmur 145 pada intinya adalah pernyataan syukur atas perbuatan Tuhan. Ayat 9 pada bagian kedua Mazmur 145 ini dijadikan tema berbagai persidangan gerejawi, dan juga dijadikan tema nasional PGI dan KWI untuk perayaan Natal tahun ini, Tuhan itu baik kepada semua orang.

Bagian pertama Mazmur 145 berisi pernyataan pribadi pemazmur untuk memuji-memuliakan Tuhan.

1 Aku hendak mengagungkan Engkau, ya Allahku, ya Raja, dan aku hendak memuji nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya. 2 Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.

Bagian kedua mengenai nubuatan bahwa ciptaan dan umat Tuhan akan juga memuliakan dan menyaksikan perbuatan kaih Tuhan.

10 Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau.

Pada bagian ketiga, yang menjadi pembacaan kita, diungkapkan secara rinci tindakan-tindakan kebaikan Tuhan kepada semua orang susah yang berserah dan mengasihi-Nya.

14 TUHAN itu penopang bagi semua orang yang jatuh dan penegak bagi semua orang yang tertunduk.18 TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan. 19 Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.



Saya ajukan ungkapan Mazmur ini sebagai bingkai firman Tuhan untuk merayakan kehidupan almarhum. Merayakan atau menyatakan syukur atas kehidupan adalah suatu pendekatan orang beriman menghadapi kenyataan dukacita dan kematian. Di dalam merayakan kehidupan almarhum kita menghadap Tuhan untuk menyatakan syukur atas karunia kehidupan yang telah dijalani almarhum dalam hidupnya; tetapi juga melihat tanggungjawab apa yang wajib kita teruskan yang terkait dengan hidup dan pelayanan almarhum.

Betapa kita tidak bersyukur? Almarhum seorang yang telah dikaruniai Tuhan kehidupan dalam bilangan umur yang lanjut, dan telah menjalankan panggilannya selaku pelayan Tuhan melampaui masa pensiunnya. Almarhum dan isterinya dikaruniai rumah tangga bahagia, saling mengasihi, dan bersama memperoleh anak-anak yang semua sudah berkarir dan mengayuh bahtera rumah tangga masing-masing, serta memberi almarhum sebilangan cucu-cucu. Almarhum kebanggaan dalam keluarga, dicintai dan dihormati jemaat-jemaat serta korps militer di mana almarhum melayani. Maka terdapat alasan yang cukup untuk merayakan, untuk menyatakan syukur atas kehidupan yang dikaruniakan Tuhan kepada almarhum. Kehidupan yang penuh dengan perbuatan-perbuatan Tuhan.

18 TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan. 19 Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.

Mewakili masyarakat Kristen Seko, saya ingin menyatakan syukur kepada Tuhan atas kehidupan dan pelayanan almarhum di tengah-tengah masyarakat Seko. Belum lama berselang di Makassar, dalam kegembiraan pernikahan salah seorang putri terkasih, almarhum menceriterakan kepada saya bagaimana awalnya pelayanannya di tengah-tengah masyarakat Seko yang mengungsi ke lembah Palu. Pada tahun 1962 pimpinan sinode Gereja Toraja – waktu itu disebut KUGT – mengutus seorang proponen muda ke tengah-tengah warga jemaat-jemaat gereja Toraja dari Seko Padang yang mengungsi ke lembah Palu karena penindasan DI/TII. Tetapi proponen itu, Jakob Ngali Bato’, dibunuh gerombolan DI/TII bersama H.B. Sisang, Kepala Distrik Seko di pengungsian, dengan lebih 30 pemuka dan warga masyarakat Seko lainnya di Hanghulo dan Lodang, Seko Padang, pada bulan Februari 1963. Segera pada bulan Mei 1963 seorang proponen muda lainnya, yang baru mulai bertugas di jemaat Bawa Karaeng di Makassar (waktu itu biasa disebut Jemaat Jl. Maros), dikirim oleh pimpinan Gereja Toraja ke Omu’. Dialah almarhum, yang melayani para pengungsi Seko yang tersebar di beberapa kampung dengan segala kesulitan sebagai pengungsi. Almarhum ditahbiskan sebagai pendeta di Omu pada bulan Agustus 1963. Almarhum diutus Tuhan mengumpulkan orang Kristen Seko yang tercerai-berai ibarat anak-anak ayam kehilangan induknya. Pelayanan almarhum ternyata berhasil mngembangkan jemaat-jemaat Seko dan menghidupkan kembali menjadi Gereja Toraja Klasis Seko Padang menjadi Gereja Toraja Klasis Seko Omu, termasuk mendirikan jemaat di kota Palu beberapa tahun kemudian. Selain itu, masyarakat Seko di lembah Palu diberkati Tuhan dengan kehidupan yang relatif aman dan makmur. Dari semua kelompok pengungsi Seko, mereka yang berada di Lembah Palu yang secara ekonomi paling baik. Di sana pula lebih 40 orang pemuda pengungsi Seko mendapat kesempatan untuk direkrut masuk tentara menjadi Batalion Frans Karangan.

Dalam pelayanannya di tengah pengungsi Seko di Omu’ kehidupan almarhum dilengkapi Tuhan dengan mempertemukan jodohnya, seorang gadis Seko menjadi pasangan hidupnya, putri keluarga almarhum Kepala Distrik H.B. Sisang. Demikianlah almarhum secara penuh “menyerahkan dirinya” bagi masyarakat Seko dan menjadi salah seorang tetua kebanggaan yang mencintai dan dicintai masyarakat Seko. Mungkin anda tahu kecintaannya kepada masyarakat Seko dinyatakan dalam keinginan almarhum untuk dimakamkan di Seko.

Sambil merayakan kehidupan almarhum sehubungan perkenan Tuhan memakai hidup dan pelayanannya bagi masyarakat Seko, marilah melihat beberapa tanggungjawab kita yang terkait dengan hidup dan pelayanan almarhum. Pertama, sejarah pelayanan almarhum sebagai hamba Tuhan di tengah-tengah masyarakat Seko dan jemaat-jemaat lainnya belum banyak diungkapkan. Almarhum dan generasinya mengalami masa-masa paling sulit dalam kehidupan jemaat-jemaat Tuhan di beberapa daerah karena penindasan gerombolan DI/TII pada tahun 1950-an dan 60-an. Sejarah masyarakat Seko masa DI/TII baru mulai ditelusuri, dan sangat penting diungkapkan untuk menjadi acuan jemaat-jemaat di masa kini dan di masa depan untuk memahami tindakan kasih Tuhan di tengah berbagai tantangan. Siapa yang tidak tahu sejarahnya tidak tahu dari mana dia datang dan ke arah mana dia menuju ...

Dalam hubungan itu, yang kedua, menyangkut suatu rencana untuk bersama-sama merayakan di Seko pada tahun 2011 peringatan 50 tahun kembalinya pengungsi Seko. Perayaan ini dapat bermakna bagi gereja dan masyarakat Seko jika seluruh pemimpin dan masyarakat Seko di Seko dan di rantau dapat bekerjasama menggalang perayaan itu dan mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna bagi kemajuan masyarakat di Seko, yang sampai sekarang masih terpencil.

Yang ketiga, almarhum menyerahkan diri dan telah menjalani panggilan hidupnya melayani jemaat dan masyarakat luas. Semoga semangat pelayanan seperti itu tetap bernyala-nyala menjadi komitmen yang sama dalam profesi yang berbeda-beda, terutama anak-cucu, generasi penerus, di kalangan keluarga. Kita sungguh dapat dikuatkan menjalani kehidupan yang mengacu pada kehidupan orang tua terkasih, yang diserahkan untuk dipakai Tuhan. Almarhum teladan bagi keluarga, dan bagi kita semua. Atas semua itu kita menyatakan bersama pemazmur:

21 Mulutku mengucapkan puji-pujian kepada TUHAN dan biarlah segala makhluk memuji nama-Nya yang kudus untuk seterusnya dan selamanya.



---------
Disampaikan pada kebaktian penghiburan atas meninggalnya Pdt. Johanis Zakaria Dassinglolo (1932-2009)di rumah duka di Parepare, tgl 20 Desember 2009 malam.

09 November 2009

Celluler di SEKO? Suatu refleksi

Suatu Permenungan
Toseko-Lipu-Tondok
10 Nov 2009 12:58pm


Menarik bahwa jejaring komunikasi To Seko di Perantauan mulai menggeliat dalam informasi dan pemikiran-pemikiran tentang masa depan Tondok/Lipu Seko.
Saya sungguh bersyukur dan berterima kasih atas semua usaha ini, terutama pada Yayasan Ina Seko dan beberapa teman-teman yang aktif di berbagai LSM/NGO yang selama ini intens memperhatikan To Seko.
Menyimak beberapa tulisan di WWW.geocities.com/inazeko, juga di http://toseko.blogspot.com/ dan beberapa mailing list Kanda pak. Dion atas surat-surat yang dikirim kealamat beliau, juga dari dinda Mahir Takaka.
Sungguh sebuah Ironi, bahwa ditengah peradapan Pasca modern ini kita To Seko masih harus berkutet soal-soal kebutuhan membangun sarana dan prasarana perkembangan Tondok/Lipu/ kampung kita. Saya tidak tahu, mengapa wilayah yang bernama Seko, dimana kita lahir, besar dan berjuang menggapai harapan, harus berlaku seperti itu?! Saya juga tidak berani menuduh atau melempar pada siapa tentang mengapa tercipta ‘situasi dan kondisi’ seperti ini.Yang jelas bahwa ini realitas kita, To Seko.
Bukan untuk dipersoalkan, bukan untuk dicari-cari akar terciptanya situasi dan kondisi itu!
Tapi bagaimana mengubah situasi ini, menantang ketidak mungkinan manjadi mungkin.
Mewujudkan mimpi dalam nyata!
Kita memang sangat tertinggal! Tiap kali saya pulang ke SEKO, tiap itu pula jalan yang sama saya lalui. Berliku-liku, kubangan lumpur, berbatu-batu. Saat hujan jalanan menjadi sungai kecil dan selalu membuatnya licin bukan saja untuk pejalan kaki juga bagi pengojek-pengojek yang merupakan “sarana tranportasi pilihan utama’ To Seko.(catatan : Sejak february 2009, Penerbangan kembali di buka-Red)
Saat-saat seperti itu, dibenak saya adalah…Apakah Seko juga merupakan wilayah NKRI yang sudah merdeka 63 tahun?
Kerabat yang kukasihi, saya yakin perasaan dan pemikiran seperti ini, juga kerabat miliki! Pertanyaan kemudian, apa yang bisa kita lakukan? Dalam Refleksi Perenungan ini, saya coba melihat dalam beberapa sisi.

Sosial Kultural To Seko!


Menarik tulisan Dinda Mahir. Bahwa To Seko memiliki kearifan lokal yang mesti dicermati sekaligus di pertahankan. Musyawarah Adat/Kerapatan Adat/Mufakat Adat. Memang bukan hanya ciri khas To Seko, sebab hampir semua suku-suku di Indonesia kaya tradisi ini. Persoalannya adalah, “mensitir” ungkapan Dinda Mahir, bahwa Musyawarah Adat/Kerapatan Adat/Mufakat Adat sudah lama hilang dari komunitas To Seko! Padahal ini merupakan Basic budaya To seko!

Belajar dari Sejarah!


Dalam Penelitian dan Tulisan Kanda Zakaria Ngelow di Inazeko website, ketika orang-orang Seko terpaksa diaspora oleh Gerakan DI/TII. Basic Musyawarah Adat (sangat terlihat) jadi wahana (yang mengikat) orang-orang Seko dipengungsian/Diaspora dalam membangun dan membentuk suatu “komunitas ekskluif” ketika mendirkian/membangun kampung-kampung baru, dimana mereka mengungsi ketika itu. Demikian juga, ketika “operasi Pungholoi” merebut Seko kembali, atau disaat “mengembalikan pengungsi” ke Tanah airnya. Situasi ketika itu sangat “didominasi oleh Perasaan sebagai TO SEKO” hingga fungsi-fungsi Musyawarah Adat sangat efektif menggerakkan To Seko, bahu membahu, untuk pemulihan Kedaulatan To Seko. Demikian juga masa-masa ‘recorvery’ phsykies/mental dan pisik akhir thn 60-an sampai awal 80-an dimana pembentukan dan pembangunan perkampungan dilakukan atas Musyawarah Adat! Bahkan sampai pada hal-hal Pertanian pun diatur bersama. Seperti, musim menanam padi, berkebun/berhuma, Hutan mana boleh dibuka/digarap dan yang tidak boleh. Atau menentukan syukur tahunan atas panen segala hasil pertanian tanpa melihat latar belakang Agama (Kristen-Islam).
Ada kurang lebih 15.000 – 20.000 jiwa (bahkan mungkin lebih) To seko Diaspora, tersebar di Donggala, Palu, Omu, Poso, Malili, Soroako, Wasuponda, Bone, Kampung Baru, Masamba, Sabbang, Palopo, Tanah Toraja, Makassar, Kalimantan, Jawa, Sumatra, Bali – Lombok, Irian, termasuk di Luar Negeri.

Sekarang Tanah Seko dikuasai oleh “MUSUH” Keterpencilan dan Keterbelakangan Pembangunan.
Sangat dibutuhkan suatu kesadaran dalam bentuk Kerapatan/Musyawarah Adat To Seko Diaspora untuk menghalau “MUSUH” Keterpencilan dan Ketertinggalan Pembangunan di Kampung kita! Bahkan lebih berat seperti ketika merebut Seko dari Tangan DI/TII Kahar Muzakar.
Dapatkah kita To Seko diaspora mengulang kembali ‘betapa dashyat’ akibat dari Kesatuan berbasis Kerapatan/Musyawarah adat itu? Bahwa Kerapatan/Musyawarah adat To SEKO Diaspora pernah membawa Pencerahan yang amat berarti untuk TO SEKO pada Masa DI/TII Kahar Muzakar!
Kalau Masa itu, To Seko Diaspora bahu-membahu memanggul senjata demi kemerdekaan “KAMPUNG-LIPU-TONDOK” masak sekarang tidak bisa?
Kalau zaman itu Pendahulu kita memanggul Senjata! Generasi sekarang memanggul Pena dalam bentuk pemikiran yang konstruktif, dalam bentuk ide yang Edukatif, Elegan dan membangun.
Persoalannya kemudian bahwa kita To Seko tidak lagi (maaf) menghargai dan belajar dari sejarah kita To Seko! Kerinduan melihat secara bersama-sama Kampung halaman dalam kungkungan “Musuh Ketertinggalan Pembangunan dan Keterpencilan” itu sepertinya bukan kebutuhan “kita bersama”. Kita sangat terpesona (mohon maaf lagi) dengan pencapaian dan target-target pribadi juga keluarga! Dengan membangun “citra” diri/keluarga atau “larut” pada Romantisme sejarah keluarga di masa lalu. Lalu bentuk target dan pencitraan itu seolah-olah menjadi bagian dari kemajuan To Seko!
Dan bila ada perhatian ke kampung halaman, itu juga dalam rangka target dan pencitraan yang dimaksud diatas (sungguh-sungguh saya minta maaf).

Pertanyaan penting di sikapi To Seko Diaspora, adalah : “Bagaimana Membuat Kampung-Tondok-Lipu To Seko dapat melepas rantai-rantai Isolasi yang membuatnya Terpencil sekaligus memutus rantai itu agar berlari mengejar ketertinggalan seperti bagian lain dari negeri ini!

Dalam catatan saya, Komunitas Masyarakat Seko diaspora yang tersebar dimana-mana itu, masing-masing memiliki Persatuan (kalau tidak mau disebut Musyawarah Adat/Kerapatan Adat Seko) sesuai latar belakang kampung para pengungsi dan daerah asal masing-masing. Seperti Persatuan Keluarga To Lemo, Persatuan Keluarga To Padang , Persatuan Keluarga to Seko Tengah. Belum lagi, Persatuan Pelajar – Mahasiswa – Pemuda Seko, dst-dst. Dimana Persatuan atau kerukunan itu menjadi suatu musyawarah/kerapatan adat bagi To Seko Diaspora.

Bahkan jauh sebelum itu, Musyawarah Adat merupakan Roh dan Etika bermasyarakat To Seko. Isitilah-istilah “TO BARA’”, “TO MAKAKA” adalah symbol-symbol Kerapatan Adat/Musyawarah Adat yang dibungkus kemasan “MUKOBU – MUKOBO - MA’BUA KALEBU”. To Bara’ - To Makaka merupakan Symbol Identitas Adat! Lambang Masyarakat Adat Seko. To Bara’ dan To Makaka lahir dalam ‘Mokubu – Mukobo - Ma’bua Kalebu”. Karena To Bara’ - To Makaka merupakan symbol Adat, maka dia tidak berdiri sendiri! Apalagi otonom! To Bara’ - To Makaka terikat pada nilai-nilai Mukobu – Mukobo - Ma’bua Kalebu ditengah Masyarakat SEKO.

Pada Zaman Prakemerdekaan To Bara’ - To Makaka, adalah Pemimpin dan “To Barani”, secara khusus menghadapi musuh-musuh dari luar Seko. Sebagai To Bara’ – To Makaka, ia akan terjun dalam medan perang dan memimpin langsung pertempuran menghalau musuh. Tapi pada masa normal, To Bara’ – To Makaka kembali hidup seperti biasa. Terjun kesawah, berladang, berburu, hidupnya jadi panutan/teladan! Ia mendorong, memberi semangat dalam bidang apapun termasuk menyeleseikan berbagai persoalan kehidupan bermasyarakat. Dan bila ada persoalan/kasus yang tidak dapat diseleseikan, To Bara’ – To Makaka menghimpun masyarakat - Mukobu – Mukobo – Ma’bua Kalebu mencari jalan keluar terhadap persoalan/kasus tersebut.
To Bara’ – To Makaka sekaligus juga symbol kemandirian dan otonomisasi To Seko atas Daerah dan wilayah adat To Seko, tanpa dipengaruhi, terlebih dianggap sebagai bawahan (atau dalam kekuasaan) Daerah lain. Dari beberapa Goresan sejarah Lokal To Seko, dalam bentuk tulisan tangan para pendahulu juga catatan-catatan resmi Karya Ilmiah, termasuk kisah-kisah yang sering kita dengar dari orang-orang Tua To Seko, memberi “sinyal” bahwa To Seko sejak jaman dahulu kala adalah Daerah Merdeka, Otonom tanpa campur tangan kekuasaan dari daerah lain. Sampai pada zaman kemerdekaan seperti sekarang.
To Seko memang memiliki Daerah dan wilayah yang merupakan hak Ulayat, Hak adat, dan Hak kepemilikan. Termasuk Hak untuk mengelola, menikmati dan membangun daerahnya. Hak-hak itu dilindungi oleh Undang-undang!

Karena itu ia harus diberi ruang gerak oleh Pemerintah (daerah dan juga pusat) berdasar pada Undang-undang NKRI. Persoalan Hak ini menjadi serius kita sikapi demi otonomisasi dan hak hidup To Seko atas Tanah dan Wilayah Ulayatnya! Dalam kaitan dengan itu, Fungsi-fungsi To Bara’ – To Makaka yang akhir-akhir ini cukup ramei dibicarakan (diperebutkan??) To Seko di Kampung Halaman, mestinya juga memahami dengan sungguh dan benar! Bahwa kehadiran mereka bukan saja sebagai symbol adat To Seko, tetapi juga suatu pernyataan pada dunia luar bahwa Daerah dan Wilayah To Seko adalah daerah dan wilayah yang bertuan. Daerah dan Wilayah yang tidak boleh “dieksploitasi” dengan alasan apapun tanpa seijin Pemilik dan Tuan atas Daerah dan Wilayah tersebut. Terlebih dimiliki oleh “orang lain”.
Bukan hanya Para To Bara’ – To Makaka, tokoh-tokoh Agama dan Tokoh-tokoh masyarakat To Seko juga musti tahu! Musti Ikut memikir lalu menuangkan pemikiran itu dalam bentuk pragmatis dialogis di tengah komunitas To seko! Saya tahu, bahwa To Seko tidak pernah kehilangan Pemikir, tetapi dalam tatanan pragmatis dialogis para pemikir-pemikir itu amat lemah. Yang ini juga suatu persoalan kita To Seko.

Kalau zaman pra kemerdekaan To Bara’ – To Makaka menjadi To BARANI menghadapi musuh dari luar Tanah Seko, maka zaman sekarang, ia juga musti “berani” mempertahankan wilayah dan daerah To Seko dari berbagai “musuh” yang hendak “menggarong – mengeksploitasi” kekayaan alam To Seko. Sebab itu para To Bara’ – To Makaka harus didukung oleh seluruh Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat termasuk elemen-elemen yang ada didalam maupun di luar Tondok – Kampung – Lipu Seko untuk mempertahankan kerapatan/musyawarah adat To Seko dalam bungkus “MUKOBU – MUKOBO - MA’BUA KALEBU” untuk menjaga, memakai, membangun dan memelihara Daerah dan Wilayah To Seko. Hanya dengan cara seperti itu, Hak Ulayat, Hak Adat/budaya dan Hak kepemilikan atas daerah dan wilayah To Seko dapat dipertahankan. Persatuan dan Kesatuan sebagai To Seko yang terikat dalam Adat istiadat dan budaya yang sama, seharusnya menjadi Spirit kebersamaan yang mampu merantai seluruh To Seko diaspora maupun yang tinggal di Tondok – Kampung – Lipu. Tapi soal ini juga jadi masaalah bagi kita!.

Masa Modern (Pasca Modern?) dan Jaringan Telepon Celuler di Seko?

Tidak ada satu bangsa di dunia ini yang mampu menghalau, mencegah, dampak dari perkembangan modernisasi. Bahkan Negara sehebat USA dan Jepang pun menjadi salah satu korban dampak buruk dari akibat modernisasi ini! Tetapi tidak semua hasil modernisasi buruk, sebab nyata bahwa spirit dibalik modernisasi adalah memudahkan Manusia dalam segala hal.
Modernisasi adalah suatu keadaan dimana terjadi “pemaksaan” sarana dan prasarana terhadap suatu daerah/wilayah/negara tanpa ada kesempatan untuk memilih terlebih menolaknya. Demikian juga di kampung halaman kita, Tondok – Kampung – Lipu Seko. Modernisasi, lambat atau cepat pasti merambat kesana.
Yang mestinya kita Kritisi bersama, bila perlu kita duduk bersama, adalah bagaimana menyuarakan persoalan-persoalan yang amat di butuhkan, bukan yang diinginkan oleh orang lain, termasuk oleh Pemerintah terhadap Masyarakat Seko, Kampung kita!
Sering kali Pemerintah kita terjebak pada rasa “sok tahu” bahwa program-program Pembangunan “terlalu sering” diyakini merupakan Kebutuhan Masyarakat. Termasuk rencana PEMKAB LUWU UTARA soal membangunan Tower Celuler di Seko.
Sebagai Putra Seko yang sudah merasakan dan memanfaatkan “Mobile Phone” tentu itu kita sambut gembira. Tapi ada yang dilupakan, bahwa membangun komunikasi mestinya dari dasar dulu. Dasar atas perkembangan kumonikasi antar/intra komunitas satu dan komunitas yang lain. Yaitu Komunikasi dalam bentuk interaksi! Interaksi satu daerah dan daerah yang lain. Dan Komunikasi seperti itu belum dirasakan, apalagi dinikmati oleh Komunitas Masyarakat Seko. Interaksi seperti ini, amat dibutuhkan oleh Masyarakat seko. Sebab interaksi yang demikian adalah dasar-dasar perkembangan Komunikasi. Dan dasar-dasar komunikasi adalah tersedianya sarana interaksi intra/antar Komunitas, yaitu tersedianya sarana jalan yang representatif!

Coba Kerabat renungkan, bagaimana mungkin suatu daerah terpencil seperti Seko akan mampu berkomunikasi (dalam arti luas) terhadap daerah lain hanya dengan Pengadaan dan Pembangunan Tower Telpon Celuler? Harus saya akui bahwa Pembangunan jaringan itu akan memperpendek jarak dan waktu kita bercakap-cakap dengan sanak saudara! Tapi apakah itu kebutuhan utama To Seko? Apakah itu dapat membangun Interaksi yang intens To Seko dengan Komunitas diluar sana ? Apakah itu dapat berakibat pada peningkatan “income” To Seko? Atau mampu meningkatkan Sumber Daya Insani To Seko sehingga memiliki bergaining kuat terhadap orang lain? Dst-dst! Saya pikir, Tidak!
Inilah salah satu dampak negatif dari modernisasi! Serba Instan, serba mudah! Dan sering kali “menghilangkan” yang hakiki! Yang hakekat! Seolah-olah dengan pembangunan jaringan Tower celuler di daerah-daerah terpencil, maka masaalah komunikasi selesei, daerah terpencil seperti Seko segera terbuka! Solusi instan dan sangat tidak bertanggung jawab.
Saya berfikir tidak segampang itu! Pemerintah Kab. Luwu Utara, terlalu intans memahami Instruksi dan program MENGKOINFO. Juga terlalu instan dan gampang menunda-nunda pembangunan Jalan Raya menuju Seko! Saya mengerti, saya memahami betapa rakyat seko, membutuhkan seluruh akses Komunikasi, termasuk jaringan telepon celuler. Tetapi To seko bukan masyarakat mobile! Bukan pula masyarakat yang sudah membutuhkan komunikasi telepon tiap waktu!
Rencana itu, akal-akalan! Bukan menjawab kebutuhan Masyarakat!

Lalu Bagaimana dong?
Menerima kenyataan bahwa Pemkab Luwu Utara membatalkan Pembangunan Jalan menuju Seko dan berencana untuk Membangun Jaringan Telepon celuler di Seko perlu pemikiran yang konstruktif dan elegan dari setiap Tokoh-tokoh To Seko. Baik To Seko Diaspora maupun To Seko di Kampung Halaman. Pemikiran-pemikiran itu perlu disatukan, lalu disuarakan! Dinyatakan kepada Pemerintah! Sebab kalau To Seko hanya berdiam diri atau hanya terpekur dalam pemikiran saja, Musuh “Keterpencilan dan Ketertinggalan Pembangunan” di Kampung Halaman akan terus menjadi “Raja” atas Daerah dan Wilayah To Seko.
To Seko tidak perlu malu-malu (padahal butuh) menyuarakan kebutuhannya secara Politis dengan memproteksi daerah dan wilayahnya terhadap “eksploitasi” atas To Seko dari pihak manapun! Termasuk dari Pemerintah yang sering kali menjual “jamu” pada To Seko tiap kali “berkunjung” ke Daerah dan Wilayah To Seko.
Sebagai Daerah dan Wilayah NKRI, To Seko memiliki Hak untuk diperlakukan sejajar dengan saudara-saudaranya di daerah lain. Dan itu merupakan hak yang harus dituntut kepada pemerintah daerah maupun pusat. Persoalan berikut kemudian adalah, Apakah To Seko mampu bersuara Lantang, Kritis dan konstruktif untuk memperjuangkan Hak-hak itu?

Untuk itu perlu perenungan ini! Namanya saja Perenungan! Yang dihasilkan tentu saja sebuah perenungan! Perenungan atas persoalan-persoalan yang ada diseputar kehidupan kita To Seko.

Catatan : Sejak February 2009 Jalur pernerbangan ke Seko di buka kembali setelah vakum selama 4-5 tahun....semoga penerbangan tersebut lancar.

06 November 2009

Catatan Harian To Seko

(oleh Toseko -Lipu-Tondok, dari diskusi di Facebook awal Nov 2009)
Wed at 3:05pm

Catatan-catatan Harian, tentang Seko! SEKO, Desa terpencil diatas ketinggian 1560 meter dari permukaan Laut.
Pada zaman ORLA menjadi satu distrik, disebut DISTRIK SEKO. Pada Zaman ORBA dilebur menjadi satu kecamatan dengan DISTRIK RONGKONG menjadi Kec. RONGKONG-SEKO. Pada Zaman REVOLUSI Modern sekarang ini, kembali menjadi satu wilayah pemerintah dengan nama KECAMATAN SEKO.
Masyarakat SEKO, Argraris dengan hasil utama, KOPI ARABICA, KOPI REBUSTA, PADI, JAGUNG, AKHIR AKHIR INI (Pertengan thn.90-an) MENGHASILKAN COKLAT BERKUALITAS EKSORT. Disamping Ternak KERBAU dan Hasil HUTAN berupa DAMAR dan ROTAN.
Sayang bahwa pada zaman ORBA hutan-hutan yang menjadi HAK ULAYAT Masyarakat seko oleh Pemerintah Daerah dan Pusat di eksploitasi sedemikian rupa (Lewat PT. KTT) sehingga Hutan-hutan Hak Ulayat tersebut sebagian telah rusak. Sebaliknya, sampai sekarang kompensasi hasil hutan tersebut sama sekali tidak dirasakan oleh Masyarakat Seko.
Dari Zaman Penjajahan ke zaman ORLA disambung zaman ORBA, berlanjut pada Zaman Revolusi, masyarakat Seko masih seperti dulu. Ya, ramah tamahnya, bersahabat kepada siapa saja, termasuk ketika Masyarakat SEKO DILUPAKAN OLEH DUNIA LUAR SEKO.
Dijaman Modern ini, sungguh mengherankan bahwa masih ada Daerah terpencil dengan komunitas Penduduk (12.000-16.000 Jiwa) tanpa akses jalan sebagai urat nadi perekonomian rakyat.
Ruas jalan yang ada skarang menuju Kec. SEKO, ternyata adalah ruas jalan peninggalan Zending-zending Belanda atau ruas jalan yang dibangun oleh Rakyat SEKO sebelum NKRI ada.
Ruas jalan ini sangat menyusahkan dan menyulitkan karena Becek, berbatu, belum lagi lintah darat yang memenuhi beberapa penggal jalan setapak ini, mendaki, keluar-masuk hutan! Masih seperti yang dikisahkan oleh Almarhun Kakek saya (PK. BETHONY). Tidak ada perubahan! Kecuali bahwa Masyarakat seko kini sudah banyak berpendidikan tinggi, dan bahwa Dusun-dusun di SEKO sudah menggeliat mengejar ketertinggalannya dari Anak Bangsa Lainnya.
Bahwa, Masyarakat SEKO memang harus membangun dirinya sendiri, berdiri diatas kaki sendiri, dan berlari mengejar zaman agar sejajar dengan Anak Negri yang lain.
Tahun 2007 bulan Agustus, saya kembali berkunjung ke-SEKO sama seperti yang selalu saya lakukan tiap 3-4 tahun sekali....harapan saya bahwa akan terjadi perubahan yang signifikan terhadap ruas-ruas jalan menuju ke Seko. Dan saya tidak terkejut, ketika mendapati bahwa harapan itu tinggal harapan.
Sambil membasuh peluh disela-sela pendakian yang berbatu dan tajam pada ruas jalan Mabusa-seko, saya teringat pada awal Tahun 1984 saat itu untuk pertama kali saya berkunjung ke Seko, setelah menyeleseikan Study di Jogyakarta. Hm...ruas ini masih sama, bahkan makin parah!! Pohon-pohon Raksasa yang dulu membuat Ruas ini teduh, kini tinggal kenangan dan menyisakan bongkol-bongkol hitam di pinggir jalan.
Belum berubah! Rupanya Sentuhan Pembangunan Masyarakat Desa yang selama ini menjadi Primadona Progam Pemerintah, baik Tingkat satu dan dua, terlebih Pusat! Bukan untuk Masyarakat SEKO!
Tapi saya selalu bersyukur bahwa ditengah kejengkelan menghadapi realitas seperti ini, saya terhibur sekaligus Bangga! Sebab dalam perjalananku kali ini hampir setiap jam aku bertemu, bersua dengan orang-orang seko yang menuju kota. Pada posisi seperti ini kami memilki persamaan, yaitu sama-sama berjalan kaki! Bedanya, Mereka memikul Beban di Punggung untuk dijual ke Kota dan saya memikul Beban dan bergumul pada Sikap Pemerintah yang tidak perduli pada Masyarakat SEKO.
Melihat kenyataan ini, saya menjadi marah! Tapi entah kepada siapa akan dilampiaskan.
Cerita Almarhum Kakek dan sekaligus Nasehatnya, masih terngiang...."Cucunda, Hidup Kita orang-orang SEKO memang seperti ini dari nenek moyang kita! Sabar dan bersahabat dengan siapapun, termasuk yang memusuhi kita. Kamu harus berpendidikan, hanya dengan itu kamu akan hidup. Kamu harus Ber-Iman, hanya dengan itu kamu raih hidupmu"

To Seko Lipu-Tondok
Cici@..Harus bangga jadi orang seko....Ci masa' kalah ama adek Angel yang udah 2 kali ke seko????
Yesterday at 2:52pm

Mahir Takaka
ada kabar terbaru yang saya amati dari perjalanan saya yg terakhir ke Seko (dari tgl 3-7 Oktober 2009), bahwa boldoser sdg memperbaiki jalan poros rongkong-seko dan sudah bekerja di Mabusa...jg ada upaya Bupati Luwu Utara melalui statement Pak Arifin Djunaidi di harian palopos untuk memasukkan transmigrasi dan tambang di seko....bagaimana ya? ... Read Moreapakah ini jd alasan yg akan memberi jaminan atas utuhnya hak2 adat masyarakat adat di Seko...???? atau justru melanjutkan kolonisasi terhadap masyarakat adat di seko yg sdh dilakukan oleh PT. KTT, PT. Seko Fajar, dan....siapa lagi....

sudah saatnya kita menuntut keadilan dalam pembangunan di seko. jg menjadikan investasi transmigrasi, tambang, HPH, HGU, dll sbg alasan untuk membangun seko....seko jg adalah rakyat NKRI/wilayah luwu utara yg hrs mendapatkan dana pembangunan yg sama dengan daerah lainnya...
Yesterday at 3:30pm

Salu Sopai
Kita berdoa sj smoga hari mendatang pemerintah bisa lebih memperhatikan seko spy lebih maju spt daerah2 yg lainx..
Yesterday at 3:39pm

To Seko Lipu-Tondok
Dinda Mahir@Yups...saya dapat informasi yang sama dari salah satu saudara kita yang baru kembali akhir aoktober kemaren. Peresoalannya adalah kesiapan To Seko menghadapi perubahan-perubahan seperti yang selama ini kita diskusikan baik Via blogspot.com atau pun via email. Kanda Z. Ngelow juga sempat bicara soal itu. perlu pemberdayaan masyarakat ... Read MoreSEKO soal HAK ULAYAT, Dan HAK HIDUP diatas Wilayah mereka sendiri. Teruslah memberi informasi kepada temen-temen via GROUP Ini Dinda. Supaya yang lain ikut urun saran bahkan urun pengalaman tentang Masyarakat SEKO, Tuhan Berkati.
Yesterday at 4:16pm

To Seko Lipu-Tondok
Bung Sopai@Masyarakat SEKO berhak menikmati pembangunan, di minta atau tidak, Pemerintah Baik PEMKAB LUTRA pun PEMPROF SULSEL mestinya Proaktif untuk itu. Terutama pembangunan Poros jalan, Sabbang - Rongkong - SEKO atau Sabbang - Via EX KTT - SEKO. Berdoa tentu saja tetap kita lakukan, tapi butuh proaktif Generasi Muda To SEKO untuk berjuang, terutama kita-kita yang hidup dan tinggal di perantauan. Ayo urun rembuk untuk itu. Tuhan Berkati.
Yesterday at 4:21pm

Imanuel Tibian
Segala bentuk investasi dll sebaiknya dihadapi secara arif dan bijaksan saya siap urung rembuk thd hal tersebut.
Yesterday at 4:42pm

To Seko Lipu-Tondok
Bung Ima@Dengan senang hati..mari kita tukar pikiran untuk kemajuan Tondok Seko..anda juga bisa baca-baca beberapa blog yang selama ini menjadi ajang tukar pikiran diantara sesama to seko perantauan; a.l : http://www.tondokseko.blogspot.com - www.toseko.blogspot.com dan http://www.mahirtakaka71.blogspot.com
Makasih untuk tukar pikirannya. Wassalam.
Yesterday at 4:49pm

Vicariya Boong Kelabu
heheheheeh maklum ijin dari org tua belum ada.......tunggulah akan ku bujuk si gendut yahya tuk mmberiku izin.......tak sabar ingin merasakan kebersaman di Seko....hahahahahahaha
7 hours ago

To Seko Lipu-Tondok
Tahun depan, liburan anak sekolah kami sekeluarga akan ke Seko, rencana adek (dr. Boby Mayaho) juga mau ikut. Kalau bisa rombongan to SEKO pulang bareng lalu ada kegiatan sosial dan bla-bla..wah pasti seru....
7 hours ago

Charles Nedved
Sy mau tp bln berapa soalx hrs kena pd saat sy cuti boleh.
2 hours ago

02 November 2009

GBI di Seko

HASIL SURVEI SEKO (Program Adopsi Seko)
http://www.misi-pelmasgbi.org/index.php?option=com_content&view=article&id=17:hasil-survei-seko-program-adopsi-seko&catid=10:news&Itemid=4.

1. Pengantar
Sesuai dengan keputusan Sidang Sinode GBI yang ke 14 bahwa GBI akan meengadopsi masyarakat Seko-Luwu Utara Sulawesi Selatan, maka Departemen Misi dan Pelayanan Masyarakat telah melakukan survei pada bulan Pebruari 2009 dan hasilnya sebagai berikut:
Jalan dan Transportasi
Ditempuh dari Makasar-Palopo-Sabang terus ke Seko dengan perjalan sebagai berikut:
Dari Sabang ke Seko selama 2 hari 1 malam pada musim hujan dengan ongkos rp. 500.000/ojek dengan jarak tempuh 125 km. Bila musim kering hanya ditempuh dengan 6 jam dari Sabang ke Seko.
Dari Sabang melalui Jalan KTT ke Seko 75 km. Dapat ditempuh dengan motor selama 1 hari perjalanan. Jalan ini lebih dekat ke Seko tapi terlalu terjal sehingga jarang digunakan.
Dengan Pesawat dari Masamba ke Seko hanya ditempuh dengan 20 menit setiap hari Selasa dan Kamis. Kapasitas pesawat 18 orang dengan harga tiket rp. 150.000/orang. Tetapi sekarang pesawat sudah tidak terbang lagi ke Seko. Apabila ada penerbangan lagi akan diberitahukan kepada kita di Jakarta.
Dari Kecamatan Limbong (Rongkong) ke Seko hanya dapat ditempuh dengan kuda dan jalan kaki selama 3 hari 2 malam. Dari Seko Padang – Seko Tengah- Seko Lemo dapat ditempuh dengan jalan kaki, kuda, dan ojek dengan jarak tempuh 30 – 65 km. Perdagangan dapat dilakukan dengan sistim barter dan juga dijual ke kota dengan transportasi motor, kuda dan pikul sendiri hasil pertanian ke Rongkong, Sabang, dan Kalumpang Mamuju.
Sejarah Seko
Sebutan Seko tidak ada dalam peta Indonesia. Istilah Seko dalam bahasa setempat berarti saudara/ sahabat/ teman. Masyarakat Seko adalah sub Suku Tana Toraja yang berdiaspora ke Seko sekitar tahun 1700. Kemudian mengalami perubahan sosial mendasar sejak tahun 1920-an dengan masuknya agam Kristen, sekolah, ekonomi pasar, dan administrasi kolonial Belanda dan disusul pendudukan militer Jepang. Tahun 1951 terjadi gerakan DI/TII terhadap masyarakat Seko akibatnya banyak orang Kristen dibantai dan dipaksa masuk Islam. Akibat lain adalah pengungsian berserakan/ berdiaspora ke Mamuju, Palopo, Toraja, Makasar, Palu dll. Tanggal 3 Pebruari Kahar Muzakar terbunuh oleh operasi TNI Sulawesi Tenggara dan setelah itu masyarakat Seko kembali membangun Seko yang adalah bagian dari Kec. Limbung dan pada tahun 2005 dimekarkan menjadi kecamatan Seko dengan kota Eno di Seko Padang.
Luas Wilayah dan Jumlah Penduduk
Luas wilayah Seko Sekitar 2.109, 19 km2, hutan 208,811km2 (hutan lindung 105. 849 km2 dan hutan produksi 102. 962 km 2, luas padang 95.000 Ha) dan penduduk kira-kira 5.620 kk terdiri dari 17.000 jiwa lebih dan 99’5 hidup sebagai petani
Geografis
Seko terbagi 3 bagian: Seko Lemo, Seko Tengah, dan Seko Padang. Secara Hukum Adat terdiri dari 9 wilayah, yaitu Singkalong, Turong, Lodang, Hono, Ambalong, Hoyane, Pohoneaang, kariango, Beroppa’. Wilayah adat Kariango dan Beroppa’ berada di Seko Lemo. Wilayah adat Ambalong, Pohoneang dan Hoyane berada di Seko Tengah. Wilayah adat Hono’, Lodang, Turong dan Singkalong berada di Seko Padang. Kecamatan Seko Padang dengan ibu kota Eno terdiri dari 12 Desa.
Gunung Kambuno di sebelah Timur dan Selatan. Maliamangan di sebelah Barat, Kasinturu di sebelah Utara.
Secara Hidrologi; daerah aliran sungai Lariang yang mengalir ke Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat. Daerah alirang sungai Rongkong yang mengalir ke Sulawesi Selatan.
Flora dan Fauna, Fragerae, aghatis (damar), Elmerila Sp, Palaguium Sp, Casuarina Sp, Magivera indica, Ficus Sp, Loganiaceae, Araucariaceae, Magnoliaceae, Sapoteceae, Casuariniceae, Moraceae. Jenis kayu yaitu kayu Uru, gaharu, Kalapi, Damar, Ulin, kayu Besi, Tahi, kadingnge, Tarian, Bitti, Hulante, Jenis non kayu yaitu Rotan Kodo, Tuhosmahu, Manoko, Tariang, Kuratung, Pubakiang, Karuku, Madun Karuku, Sikuntaa. Jenis tumbuhan yaitu Angrek, Bambu, Durian, Langsat, Enau dan berbagai jenis Palem. Jenis fauna yaitu monyet, elang, anoa, lintah, tawon,/ lebah, ular, babi hutan, biawak, tangkasi, kus-kus, wallet, kelelawar, maleo.
Pertanian
Rata-rata Seko Padang beternak kerbau, sapi, kuda, unggas, padi. Seko Tengah; kerbau, kuda, sapi dan rata-rata kopi rebusta, arabika, coklat, padi, jagung. Seko Lemo kopi dan padi. Rata-rata bercocok tanam secara tradisional.
Pendidikan dan Kesehatan
Jumlah sekolah: TK:1 bh. SDN: 23 bh. SMPN 5 bh. SMAN: 1 bh
Tenaga guru dan fasilitas belajar terbatas
Rumah sakit dan tenaga medis terbatas
Pengobatan tradisional
Kampung Baru Desa Padangbalua kesulitan air bersih
Belum ada wc dan kamar mandi umum dan wc keluarga yang layak
Keparawisataan
Pemandangan alam indah (ekowisata) dengan perbukitan, gunung, sungai.
Ada sumber air panas
Situs Hatu Rondo (batu ukiran) zaman Belanda
Situs manusia raksasa “Talangbia”, yaitu batu lesung, tungku, gua tempat tinggal dll.
Seluruh masyarakat adat Seko berkumpul pada bulan Agustus setiap tahun di Seko Padang untuk melaksanakan perayaan ucapan syukur atas panen raya/ hari perhentian dari pekerjaan dan lain-lain. Kegiatan ini dimulai dari Juli-September setiap tahun.
Seko Tradisional dan Modern
Tradisional yaitu menggunakan lesung untuk tumbuk kopi dan padi, kuda,cangkul, parang, alat peras tebu. Rumah masih adap papan, bamboo, dan daun
Modern yaitu menggunakan telepon satelit, solar sel,televisi, radio, parabola, handtraktor, mesin potong kayu,motor, generator, mesin peras tebu, mesin giling padi, rumah atap seng.
Perusahan yang hadir di Seko pada zaman Orde Baru:
PT. Seko Fajar; usaha perkebunan teh
PT. North Mining: tambang emas, tembaga dan biji besi.
PT. KTT (Kendari Tunggal Timber): usaha kayu
Semua perusahan sudah tidak beroperasi lagi
Tidak menguntungkan masyarakat Seko
Pemerintah dan LSM
Kemampuan pemerintah dalam pembangunan infrainstruktur lemah
Belum ada orang Seko yang memerintah sebagai camat (menurut pengakuan pejabat pemerintah setempat).
Sekitar 9 orang calon anggota legeslatif yang daerah pemilihannya Seko dan orang Seko hanya 1 orang.
Lembaga pendamping; AMAN (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) Sulawesi Selatan. Yayasan Ina Seko 2. Masalah prioritas menurut sektor
1.Jalan
Jalan yang rusak berat mengakibatkan semua kegiatan pembangunan, pelayanan masyarakat, pengembangan hidup, dan pemenuhan kebutuhan berjalan lambat
2. Pendidikan
- Fasilitas belajar dan tenaga guru terbatas.
- Masyarakat belum mampu membiayai anak-anak lulusan SMP untuk studi lanjutan ke SMA di kota.
Peredaran uang sulit di kalangan masyarakat karena perdagangan dengan menggunakan sistim barter
3. Air Bersih
- Masyarakat Kampung Baru Desa Padangbalua Seko Padang kesulitan air.
- Tidak ada air di wc dan kamar mandi di fasilitas sosial (gereja dan sekolah).
- Masyarakat menderita penyakit diare pada musim kemarau setiap tahun
- Bercocok tanam di pekarangan sulit
4. Pertanian
- Tanah di Seko Padang kurang subur
- Orientasi pertanian sekedar untuk makan minum
- Teknologi dan industry kurang memadai
- Ternak sapi, kerbau, dan kuda dipelihara lepas
- Tanaman dirusak ternak
- Kualitas SDM pertanian belum optimal
- Pembinaan petani oleh instansi teknis dan PPL kurang optimal
5. Ekonomi
- Usaha ekonomi belum terarah
- Pemasaran sulit
- Kesejahteraan hidup rendah
6. Lingkungan Hidup
- Penebangan liar
- Pengundulan bukit
- Erosi pada lahan pertanian
- Pendangkalan air sungai
3. Strategi Kebijakan Terhadap Aspek-aspek Kebutuhan di Kecamatan Seko
Membangun jalan 71 km dari Kecamatan Limbong (Rongkong) ke Kecamatan Seko. Pemerintah sedang membangun jalan dari Sabang ke Limbong (Rongkong) dengan anggaran 1 milyard untuk 1 km pengerasan jalan.
Memberikan bantuan transportasi motor kepada para gembala jemaat guna memperlancar pelayanan dan persekutuan antara hamba-hamba Tuhan
Membiayai anak-anak Seko yang telah lulus SMP untuk melanjutkan studi ke SMA di kota Palopo dan kota-kata lain dan pengadaan asrama (graha asuh) penampungan bagi mereka
Membiayai anak-anak Seko untuk belajar di ITKI Jakarta, IPDN dan jurusan lain yang dipilih sesuai kemampuan
Membangun proyek pipanisasi air bersih di Kampung Baru Desa Padangbalua Seko padang.
Pengadaan telepon satelit di Seko guna memperlancar komunikasi pelayanan antara daerah dan pusat
Memberikan pendidikan dan pelatihan secara khusus bagi pelayan Tuhan dan guru-guru Sekolah Minggu
Mengadakan KKR dan pembinaan iman pada bulan Juli –September setiap tahunnya karena pada bulan Agustus masyarakat berkumpul di kota kec. Seko Padang untuk mengadakan perayaan keselamatan/ ucapan syukur
Membantu pembangunan 4 gereja perintisan di Seko Padang, 2 gereja di Seko Tengah, dan 1 gereja di seko Lemo
Pengadaan alat musik gereja
Pengadaan Alkitab dan buku-buku rohani dan buku-buku teknis
Mengadakan pendidikan dan pelatihan kepada para petani

Sumber Data: hasil kunjungan Pebruari 2009

28 April 2009

Kalumpang


Foto: Tiga puncak Sandapang dari arah Kalumpang.

Saudara-saudara warga Seko di rantau.
Salam dari Makassar.

Kemarin sore saya tiba dari Kalumpang dalam suatu perkunjungan selama seminggu. Dari Mamuju ke Kalumpang ada jalan oto yang walaupun jelek tapi sangat membantu. Jarak 120Km dilalui selama 4 - 6 jam. Ada beberapa sungai kecil tanpa jembatan yang bisa menahan perjalanan kalau hujan deras: sungai banjir yang baru dapat diseberangi kalau airnya surut.

Menurut informasi sekarang bisa dengan perahu bermotor (katinting) selama sekitar 2 jam dari Kalumpang ke Tambingtambing. Lalu dengan sepeda motor selama setengah sampai 1 jam sampai di Bau. Dari situ jalan kaki ke Beroppa/Rantedanga setengah hari. Kabarnya banyak orang dari Seko memilih membawa hasil coklat, kopi dll ke Bau, daripada ke Sabbang atau Toraja.

Dari Palopo tadi saya ditelepon dengan berita basi: tidak ada caleg anak Seko yang lolos untuk DPRD II Luwu Utara. Katanya karena para pemilih kita memberi suranya untuk orang-orang luar yang membagi-bagi uang untuk sebungkus rokok ... Jadi kalau tidak ada yang memperjuangkan pembangunan masyarakat di Seko, itulah kebodohan warga masyarakat kita yang tidak sadar akan arti memilih.


Ini sekadar berita bagi anda semua, kiranya berguna. Semoga anda semua sehat, sukses dan marampa'

Salam,

Zakaria Ngelow